Beda King Power dan Old Trafford

Itu hanya nama terkait sponsor, sebuah perusahaan Vichai Srivaddhanaprabha, pemilik Leicester. Nama sebenarnya dari kandang klub Jamie Vardy dan kawan-kawan ini, ya Stadion Leicester City. Tapi, tentu, kini King Power lebih kena dalam ucapan publik sepak bola Inggris, terkait pencapaian klub ini pada musim lalu yang tampil sebagai juara Liga Primer.

Namun, seperti namanya, King Power setidaknya benar-benar memiliki kekuatan yang luar biasa. Bahkan pada sepanjang musim ini. Terlepas dari pemecatan terhadap Claudio Ranieri, fakta bahwa The Foxes mampu menjaga aspek kekuatan di laga kandang. Terakhir, Selasa (14/3) atau Rabu dini hari WIB ketika tim yang kini di bawah kepelatihan Craig Shakespeare berhasil lolos ke perempat final Liga Champions setelah menyingkirkan Sevilla.

Kemenangan tersebut adalah comback yang mengesankan, setelah di pertemuan pertama 16 besar mereka kalah 1-2 di kandang Sevilla. Ya, inilah kekuatan King Power. Namun, tentu kekuatan tersebut tidak sertamerta muncul begitu saja. Ini sebuah skip alias lompatan yang cemerlang. Dari emosi tentang pemecatan terhadap Ranieri hingga akhirnya Leicester kini semua melankolia tersebut berhasil dilewati.

Intinya adalah perubahan. Untuk saat ini, Leicester telah membuktikan bahwa mereka memang membutuhkan perubahan seperti ini. Pemecatan terhadap Ranieri boleh jadi bisa dinilai sebagai pengkhianatan terhadap pencapaian yang telah dilakukan pelatih asal Italia tersebut bagi klub. Tidak ada pelatih yang mampu melakukannya di Leicester kecuali Ranieri.

Tapi, tidak ada pilihan lagi bagi Leicester kecuali melakukan perubahan. Dan, perubahan itu adalah menyingkirkan sang pembuat keajaiban. Kini, perubahan tersebut sudah sangat jelas terlihat. Dalam dua laga terakhir Liga Primer, The Foxes meraih kemenangan tepatnya mengalahkan Liverpool dan Leicester City. Sedangkan di Liga Champions, tiket perempat final adalah bukti perubahan tersebut.

Pemecatan terhadap Ranieri bagai satu langkah mundur, tapi dengan itu mereka melompat tiga langkah ke depan. Masih ada yang bisa diselamatkan dari Leicester, di antaranya kekuatan mereka dalam laga kandang. Tiga kemenangan terakhir tersebut mereka raih di King Power. Laga kandang memang salah satu faktor yang membuat Leicester kuat. Dalam 14 laga kandang Liga Primer contohnya, mereka hanya kalah empat kali di King Power.

Di King Power sepanjang musim ini pula, mereka mampu menahan Arsenal, mengalahkan Manchester City, West Ham United, dan Liverpool. Ingat pula di King Power mereka mengalahkan FC Porto, Kobenhavn, dan Klub Brugge. Keistimewaan tersebut karena kekuatan dari dukungan suporter. Inilah yang kurang terasa di Old Trafford.
Belakangan, pelatih Manchester United (MU), Jose Mourinho, menyayangkan poin yang hilang di The Theatre of Dreams.

Setelah Leicester sukses memaksimalkan laga kandang, hari ini giliran MU yang bakal mencoba meraihnya. Pencapaian Leicester belakangan ini idealnya bisa menginspirasi MU. Zlatan Ibrahimovic dan kawan-kawan akan tampil di laga kedua 16 besar Liga Europa menghadapi FC Rostov. Mereka membutuhkan kekuatan suporter karena hanya imbang 1-1 dalam laga tandang. Hasil imbang tersebut bukan situasi yang aman untuk MU. Dan, hari ini menjadi momen yang krusial bagi peluang MU untuk meraih gelar Liga Europa.*Irfan Sudrajat

BERITA TERKAIT

vehicules-adaptes-guadeloupe.com prediksi togel hk Sumber: TopSkor ID